Sabtu, 17 November 2012

Cerpen Cinta Kasih sang Rembulan

Cerpen Tema Perempuan
Judul : Cinta Kasih Sang Rembulan
Karya :Fahrurrozi
Alamat: Ngadisono Windusari Magelang Jawa Tengah
Dari Pondok Pesantren Ma'ahidul 'Irfan
Soropaten Gandusari Bandongan Magelang
 
CINTA KASIH SANG REMBULAN

Di tengah heningnya malam di hiasi indahnya sinar rembulan yang menawan, dalam hati aku berkata”indahnya rembulan itu yang dikelilingi tiga bintang kecil yang berkerlip merayu sang rembulan”, rembulan pun tersenyum gembira melihat bintang kecil merayu didepan nya, karena bintang tak mungkin berkerlip bila sang rembulan tak mau memberikan sinarnya, sinar rembalan yang begitu terang menyinari alam semesta ini, semua keadaan gelap pun menjadi terang karena sinarnya. Semakin hening nan damai ku rasakan ditambah nyayian burung hantu yang merdu.
Didalam rumah bambu terdengar rengekan tiga anak kecil yang menangis, Rozi adalah salah satu dari ketiga anak seorang janda dirumah itu, Rozi dan kedua saudaranya duduk didepan dapur tempat ibunya memasak, sambil menangis rozi dan kedua saudaranya berkata“ bu kami lapar, bu kami lapar, bu kami lapar?“
“nak bersabarlah ibu cari hutangan beras dulu kepada tetangga untuk makan hari ini“  ibu khomsah yang sedang memasak air menjawab rengekan ketiga anaknya yang kelaparan, dengan rasa sakit dan hati yang tak kuasa membendung air mata melihat ketiga anak nya merengek nangis karna lapar, mata yang keriput itu pun berkaca-kaca berlinanglah air mata belas kasih sayang kepipinya yang belepotan angus karna habis meniyupi tungku yang buat memasak dengan menggunakan kayu bakar.   
dengan membawa kucuran air mata yang semakin deras ibu khomsah beranjak dari tempat duduknya berjalan menapakan kakinya yang hitam nan kurus itu menuju rumah tetangganya.sesampainya disana ibu khomsah dilanda rasa ragu-ragu dan takut mendekati rumah tetangganya“kemarin kan aku baru saja meminjam beras, masak sekarang mau pinjam lagi, tapi taka apa ah kasian anak-anak ku dirumah kelaparan, demi anak-anakku akua akan menanggung semua resikonya apa pun yang ter jadi nanat” dalam hati ibu khosah berkata, ragu-ragu
“tok tok tok, Assalamu’alaikum“ sambil menghapus air mata di pipinya yang keriput ibu khomsah mengayunkan tangan kanannya  mengetok pintu dan menggucapkan salam.
“wa’alaikumsalam, siapa ya..?“ibu anis, pemilik rumah yang sedang meja membaca Koran. duduk bertumpang kaki diatas sofa dan ngemil krizpi yang berada diatas pangkuannya mulutnya yang belum selesai mengunyah dengan suara lantang dia menjawab salam ibu khomsah 
“saya bu komsah“ sambil tertunduk ibu komsah menjawab pelan
pintupun tak ter buka-buka ibu khomsah hanya diam dan termenung didepannya, sambil teringat ketiga anaknya dirumah.
“astagfiruallahal ‘azdim“ ibu khomsah kaget tiba-tiba kaki besar pendek memakai celana legeng berdiri didepannya. Ibu khomsah yang lagi termenung teringat ke tiga anak nya dia tak tahu kalau Daun pintu sudah di buka dan ibu anis sudah berdiri didepannya,
“kenapa bu? kaget? kayak lihat king-kong aja“ dengan bola mata yang hampir keluar ibu anis bertanya ke ibu khomsah, kesal.
“ng ng enggak papa kok bu Cuma kaget aja“
“ada keperluan apa! bu khomsah datang kemari, mau pinjam beras lagi? yang kemari aja belum ibu lunasi masak sekarang mau meminjam lagi, uh sorry ya“ dengan nada galak dan meng hina ibu anis tak mau meminjamkan beras .
“tapi kasian anak saya dirumah bu“
“itukan derita ibu, sudah sana ibu pulang aku sudah mau muntah lihat ibu, udah, bauk, hitam, kurus, dan. lihat baju dan rok ibu dekil robek-robek lagi  ih dah sana cepat pulang“  ibu anis dengan kejamnya mengusir ibu khomsah.
“ ta…”
“darrr!“
“astagfiruallahal ‘azdim“ belum selesai ibu khomsah mengucapkan kata ”tapi” ibu khomsah sudah dikagetkan dengan suara pintu yang ditutup dengan sangat keras” ini kedua kalinya aku dikagetkan oleh ibu anis, semoga saja allah memberikan hidayahNya pada bu anis“ gunemnya dalam hati.
            kecewa, gundah, malu dan lara ibu khomsah menggulung semua rasa itu dalam hatinya dengan kepla ter tertunduk ia berjalan pelan meninggalkan rumah ibu anis.
Angin kemarau yang bertiup kencang menambah suasana hati ibu khomsah semakin gundah,
Ibu khomsah menhentikan langkah kakinya sambil melihat tangannya yang kosong tak membawa apa-apa dalam hatinya ia ber do’a“ya allah apakah aku pantas menjadi seorang ibu, member makan tiga anak amanah Mu saja aku tak kausa. Ya Allah berikanlah hambamu ini petujuk, bukakanlah jalan rizqi Mu pada hamba yang hina ini karna engkau sebaik-baiknya zdat yang memberikan rizki dan enkau maha pengasih lagi maha penyayang“ dengan keyakinan dan keteguhan hati bahwa allah itu tak buta dan tak tuli, Allah pasti mendengar do’a hambaNya dan menolong hambanya yang lagi kesusahan.
“tes tes tes“ tak terasa air mata ibu khomsah menetes lagi. Debu depan rumah ibu anis yang kering karna panasnya musim kemarau terbasai oleh tetesan-tetesan air mata kesedihan ibu khomsah.
“Assalamu’alaikum bu khomsah“ tiba-tiba ada seorang memengang selendang menggendon belanja mengucapkan salam pada bu khomsah.
“wa’alaikumsalam, e….bu karomah“ sembari menghapus air mata di pipinya bu khomsah menjawab salam bu karomah tetangga dekatnya yang kebetulan liwat habis pulang dari pasar.
“lagi apa bu di situ?“ Tanya bu karomah, heran
“ini habis dari rumah ibu anis“
“ibu khomsah menangis ya“
“ngak kok bu“ dengan ter tunduk ibu khomsah menjawab, malu
“jangan bohong bu dari raut wajah ibu keli hatan kalau ibu khmsah itu habis menangis, cobadeh bilang sama saya masalah ibu sipa thu saya bisa membantu ibu khomsah” bu karomah yang merasa kasihan mencoba membujuk ibu khomsah untuk mengatakan masalahnya pada bu karomah .
Bu khomsah akhirnya menceritakan masalahnya dan apa yang ter jadi padanya tadi. Perasaan sesama perempuan pun timbul di benak ibu karomah tanpa sadar butir demi butir air mata di teteskan oleh  kedua mata bu karomah.
Dengan rasa belaskasih bu karomah memberikan sedikit makanan, beras dan uang kepada bu khomsah,
“bu ini ada sedikit rejeki untuk bu khomsah mohon diterima” bu karomah menurunkan belanjaannya lalu mengambil makanan, beras dan uang tuk diberikan kepada bu khomsah
“ tak usah repot-repot bu“ , ibu khomsah menolak pemberian ibu karomah,
“tak apa bu terima saja ini rejeki dari Allah buat ibu dan anak ibu di rumah saya hanya menjadi perantara Nya saja untuk memberikan rejeki ini, semua yang saya lakukan atas kehenda Nya bukan atas kehendak dan kemauan saya, jadi mohon diterima ya bu, semoga saja ber mangfaat buat ibu dan anak ibu bdi rumah,
“kalau begitu saya terima semoga Allah membalas lebih atas kebaikan ibu karomah”sambil mennenteng baran-barang pemberian bu karomah ibu khomsah meruduk sedikit dan mendo’akan bu karomah
“Amin“ dengan ter senyum ibu karomah menjawab do’a“sekarang bu khomsah pulang kasian anak-anak ibu sudah menunggu kedatangan ibu“, bu karomah sambil memegang kedua pundak bu khomsah ia menyuruhnya pulang bu khomsah  karna ketiga anaknya sudah menunggunya
“kalau begitu aku mohon pamit, assalamu’alaikum”, ibu khomsah dengan semyum gembira mengucapkan salam perpisahan pada ibu karomah,
“wa’alaikumsalam” bu karomah menjawab sembari berkata dalam hatinya sunggu besar perjuangan mu bu khomsah semoga Allah memberikan kesabaran untuk mu dan kekuatan menjalani cobaan-Nya
Dengan membawa hati gembira ibu khomsah menapakan kaki menuju rumahnya yang hampir roboh sesampainya dirumah ibu khomsah sudah disapa oleh ketiga anak nya, rozi dan kedua saudaranya yang melihat ibu mereka pulang langsung berlari dan berteriak ”ibu……”
Bu khomsah dengan berlinang air mata memeluk ketiga anaknya, rozi dan kedua saudaranya yang melihat sang ibu meneteskan air mata dengan memeluk erat sang ibu mereka meminta maaf,
“ibu kami meminta maaf karna selalu membuat ibu repot dan susah karna kami”, air mata ibu khomsah menjadi semakin deras mendengar ketiga anaknya meminta maaf, dia berkata”tak apa-apa nak itu sudah menjadi kewajiban seorang ibu menjaga dan menyanagkan buah hatinya” 
“sekarang kalian makan ibu tadi memper oleh rejeki makanan untuk kalian”bukhomsah melepaskan pelukan nya dan menyuruh anak nya makan makanan yang dibawanya, , rozi dan kedua saudaranya akhirnya bisa mengisi perut mereka yang kelaparan, ibu khomsa pun tersenyum memandangi ketiga anaknya makan .
“Allahuakbar Allahuakbar“ terdengar lantang suara muazdin mengagungkan Allah dengan mengumandangkan azdannya .
Waktu sholat dhuhur pun tiba bu khomsah menyuruh ketiga anaknya yang yang sedang makan untuk mengambil air wudhu dan bersip-siap sholat dhuhur .
“anak-anak setelah makan kalian berwudhu lalu kemasjid sholat dhuhur ya“
“baik bu“ rozi < 12 th > anak ketiga dari tiga bersaudara sambil mengunyah-ngunyah makanan terkhir yang masih tersisa di mulutnya ia men jawab ibunya
“nikmah dan doni dirumah aja jangan ikut kemasjid karna kalian masih kecil“
“iya bu“ dengan wajah yang lucu meka menjawab singkat perintah sang ibu mereka
            Sarung, kupia, baju koko sudah lengkap rozi dengan wajah riang dia pergi ke masjid untuj melakaukan ibadah sholat dhuhur.sesampenya di sana.
“e… akukan belum berwudhu kata ustazd fahrur kan sholat seseorang itukan tidak sah bila tanpa berwudhu. Wudhu dulu ah” tiba-tiba rozi teringgat kalau dirnya belum wudhu. Diapun melepas semua peralatan sholatnya dan memakai serandal meli merah hijaunya lalu ia menuju tempat wudhu yang jaraknya kurang lebih  sepuluh meter dari masjid.
“Sholaatum tum tum tum tum……apa ya?” rozi berjalan sambil geleng-geleng dan manggut-manggut mendendangkan sholawat tapi dia lupa akan kelanjutan syiir sholawat yang ia dendangkan. akhirya ia Cuma mendendangkan sholawat dengan syaiir seadanya yang ia hafal.keenakan bergeleng-geleng dan manggut-manggut bersholawat ”bruk” ia menabrak seseorang didepannya
“innalilahi wa innailaihirojiun roz, rozi”fahrur pak ustazd yang mengajar ngaji rozi kaget ter tabra diriya 
“maaf pak ustadz keenakan membaca sholawat jadi gak tau kalau pak ustadz ada di depan saya” tanpa mengurangi rasa tawaduknya pada guru rozi meruduk cengar-cengir meminta maaf atas kehilafannya.
“dah sana cepat berwudhu ntar kamu telat lagi sholatnya” perintah pak fahrur pada muridnya mendidik kedisiplinan pada muridnya.
“ya pak ustadz permisi mohon liwat assalamualaikum” dengan rasa malu ia berjalan pergi ber pamitan pada pak fahrur.
“Waalaikumsalam”
 Basuhan demi basuhan pun ia lakukan untuk menyempunakan wudhunya setelah selesai lalu ia beranjak kembali kemasjid menunaikan sholat dhuhur.setelah takbir, niat rokaat demi rokaat sholat dhuhurpun ia lakukan.
“assalamualaiku warohmatullah. assalamualaiku warohmatullah” dua salam telah di ucapkan rozi mertandakan usainya sholat dhuhur. Dia pun membaca wirid-wirid yang sudah diajarkan oleh pak ustadz.semua wirid sudah dibacanya rozi mengangkat tangannya yang hitam dan kurus itu keatas dia pun siap melontarkan do’a-do’anya.
   “ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang ampunilah dosa-dosa ku dan dosa ke dua orang tuaku tempat kanlah ayah ku ditempat yang mulya di sisih Mu, berikanlah ibuku ketabahan dan ketawakalan atas semua cobaan Mu, bukakanlah pintu rizqi yang halal padanya kasihanilah mereka sebagai mana mereka mengasihi ku dari waktu kecil sampe sekarang.ya Allah berikan kejayaan dan ampunan pada umat islam didunia ini. Jadikanlah kami anak-anak yang sholeh dan sholihah yang bisa membanggakan kedua orang tua kami. Robbana atina fiddunya kasanah wafil akhirati kasanah washolallahu ‘ala saiyidina Muhammad, Amin wal halhamdulillahirobilalamin”
“sholat udah wirid udah berdo’a juga udah berarti sekarang waktunya aku pulang nea” katanya dalam hati sambil menghitung apa yang sudah ia kerjakan dengan jari-jarinya.
Diapun berkemas-kemas pulang dengan seraldal melinya ia berjalan pulang sebelum dia masuk kerumah diapun tak lupa mengucapkan salam.
“assalamualaikum”terdengar sura cemeng si rozi dari dalam rumah
“wa’alaikumsalam emas rozi udah ulang” dengan hangat kedua adik rozi menyambut
“dek ibu dimana”
“ibu disini nak, kamu dah pulan” jawab ibunya yang sedang menanak nasi didapur mendengar rozi anaknya mencarinya
“iya bu”jawabnya sambil berjalan bersama adek-adeknya menghampiri ibunya yang sedang memasak di dekat ibu mereka rozi ditanya oleh ibunya 
“tak lupa tow kamu sesudah sholat berdo’a untuk ayah, ibu dan juga adek-adek kamu”
“tak lupa dong bu kan aku sayang ibu, ayahdan adek” jawabnya sambil tersenyum di depan sang ibu.
Sambil menunggu tanaknya nasi sang ibu bertannya pada ke tiga anaknya tentang keinginan dan cita-cita mereka
“setelah kalian besar nanti kalian mau jadi apa”
“aku mau jadi dokter” dengan mengangkat tangannya rozi anak pertama dari tiga bersau dara mengatakan cita-citanya pada sang ibu. Disusul si nikmah anak bu khomsah yang ke dua.
“kalau aku mau jadi perawat biar bisa bantu mas rozi menyembuh kan pasien”
“kalau doni mau jadi apa” Tanya bu khomsah pada si bungsu yang masih ber umur 4empat tahun.
“kalau adek mau jadi superman”
“lo kok jadi super man” Tanya bu khomsah sambil tertawa.
“iya biar bisa menolong bayak orang dan terbang…” sambil memeragakan gaya terbang super man dengan tangan kanan melentang ke atas dan tangan kiri melipat ke dada sibungsu berlari-lari mutar-mutar sambil bahagia, rozi dan nikmah yang melihat adek mereka yang berlari-lari kayak super man tertawa gembira, sang ibu yang melihat anaknya tertawa gembira ia haya tersenyum dan berkata dalam hatinya
“sungguh mulia cita-cita kalian nak semoga Allah meridhoinya, karna tanpa ridho Allah kita tak bisa apa-apa.
Terpancarlah cahaya kasih sayang dan kebahagiaan dirumah bambu itu walupun mereka tak tau apa yang akan mereka makan besok tapi Allah maha adil pasti Allah member makan pada hambanya yang hidup di dunia ini. Itu keyakinan bu khomsah yang selama ini di peganginya.dan alngkah mulianya hati seorang ibu pada anaknya kasih sayang yang ia berikan tak pernah pudar dan tak pernah fana cinta dan kasih sayang pun selalu kekal dalam hatinya, bagaikan rembulan menyinari malam yang gelap, seorang anak tak mungkin bisa melihat keindahan alam semesta bila tanpa sinar kasih sayang sang ibu dan tak ada seorang anak yang bisa membalas kebaikan sang ibu kepadanya walaupun dia bisa memberikan dunia ini pada ibunya.


Oleh : fahrurozi
 

Cerpen Dainun



Cerpen Tema Pesantren
Judul : Dainun
Karya :Naila Mustofiyah
Alamat: Bugangan Trasan Bandongan Magelang Jawa Tengah
Dari Pondok Pesantren Ma'ahidul 'Irfan
Soropaten Gandusari Bandongan Magelang



DAINUN

Langit timur masih memerah, surya belum juga menyapa. Hanya cericit riang burung-burung kecil di antara daun-daun mahoni yang berjejer di sepangang jalan. Suara-suara indah yang mulai member kehidupan pagi. Aku melangkah pelan, kaiku basah oleh embun, rumput-rumput hijau itu tersenyum padaku.
“selamat pagi anak manis” sapanya ramah.
Dingin, saat angin pagi turut menyapa, kusimpan tanganku ke dalam saku jaket hijau pudarku. Aku melompat pelan, berlari-alri kecil, melompat lagi dan berlari lagi, hingga tubuhku mulai terasa hangat.
Teori sederhana: “Mesin motor jika dihidupkan dan dibawa berlari, makin lama makin panas. Begitu pula tubuh manusia, ketika bergerak, energy yang tersimpan diubah menjadi tenaga untuk bergerak. Ketika beraktifitas manusia akan berkeringat dan terasa panas”
Penjelasan singkat kakak bantara saat kemah bakti, sebelum menyuruh kami melompat-lompat, berlari, melompat dan berlari lagi di pagi hari yang buta.
“Gila!” pikirku saat itu. Tapi rupanya ilmu kadang justru lahir dari kegilaan-kegilaan yang tidak masuk akal. Seperti ilmuwan Phitagoras Aristoteles saat menemukan rumus. Berawal sari saat ia mandi dan menceburkan diri ke dalam bak mandi yang saat itu sedang penuh. Saat ia masuk sebagian air tumpah terdorong oleh berat badannya. Seketika ia bangkit dan melompat kegirangan tanpa ingat berpakaian, sambil berteriak “Eureka… eureka… eureka”. Dia sampai dianggap gila saat itu, saat ia menemukan ilmu yang sangat bermanfaat hingga saat ini. Dan hari ini harus ku ucapkan terima kasih pada mereka atas kegilaan-kegilaan mereka.

Kakiku masih asyik melompat, berlari dan melompat lagi kemudian berlari, tiba-tiba mataku menangkap seonggok bangkai ular di tengah jalan. Tak lagi berbentuk, terlindas roda-roda kendaraan yang membawa beban berat, hingga bangkai ular yang cukup besar itu kini menjadi gepeng.
Andai gepengan panjang itu dipotong seukuran telapak tanganku, kemudian digoreng dengan dilapisi campuran tepung beras dan tepung kanji, 2:1 ditambah dengan telur 4 butir, pasti akan menjadi keripik yang gurih dan lezat. Sayangnya, tak ada yang berfikir demikian selain aku “Ah, Gila!”
“Harom Ya Syaikh!” teriak hatiku tiba-tiba teringat hardikan guru ngajiku saat kami ketahuan mencuri ayam miliknya. Kami berlima dan aku perempuan satu-satunya dalam kelompok badung itu. Bukannya Sayyidah atau sayyeda untuk panggilan perempuan, namun guruku lebih memilih menggunakan kata Syaikh (sapaan untuk kaum adam di daerah timur tengah). Hatiku begitu sakit saat itu, bukan karena guru ngajiku melupakan keperempuananku tapi karena panggilan dalam bahasa arab itu mengingatkanku pada Negeri Kelahiran Habibullah Muhammad SAW, sebagai Rahmatan Lil Alamien.
Bagaimana mungkin anak sebadung aku bisa bermimpi bertemu Rasulullah? Maka aku insaf dan mulai memperbaiki diri berharap aku belum terlambat. “jika kalian dapat mencapai kelas IX dan menjadi wisudawan/wisudawati terbaik, maka kalian akan diberangkatkan ke Baitullah seperti halnya kakak-kakak yang lain” iming-iming guru ngajiku. Sebuah impian yang telah lama aku simpan dan kupendam sendiri dan kini mulai kulupakan, Mustahil!
Setengah mati aku berjuang, belajar, belajar, dan terus belajar demi meraih nilai terbaik. Setengah mati aku mencoba bertahan dalam ketidak berdayaanku demi mencapai ujung perjalanan dan meraih mimpiku. Namun hari ini tinggal impian belaka. Aku telah terlempar jauh dari impianku, dulu aku tidak pernah rela terlelap dan kini selepas isya aku lelap damai dan bangun dengan keengganan, dan pagi-pagi buta aku telah melompat sendiri seperti orang gila. Seperti pagi ini dan juga pagi yang lain. Menempuh perjalanan jauh, perjalanan yang semu, demi… memalukan jika aku sebutkan….Rupiah. dunia yang memaksaku menjadi pecundang, yang memaksaku melupakan impian agungku, melupakan kewajiban tiap muslim mulai dari bualan hingga lianglahat yaitu “Thalabul Ilmi”
“Ah, muak rasanya membayangkan perjalanan panjangku yang semu ini. Tiada obsesi, tiada spirit, hampa, pasti ini mimpi buruk dan aku pasti akan terbangun dengan impianku”
Kutepuk kedua pipiku, kucubit lenganku yang nyaris hanya tulang dan otot-otot membiru dibalut kulit hitamku. Sakit, ini nyata. Bukan mimpi buruk karena aku tidur tanpa berdoa. Aku tak lagi terbangun dengan penyesalan karena ketiduran terlalu lama. Tapi kini aku terbangun dengan segenap penat dan keengganan “malas rasanya aku terbangun dan mendapati semuanya hanya mimpi buruk, tragis!”
Aku terus melangkah menyusuri jalan yang mulai ramai, hari telah mulai siang. Seluruh tubuhku  kejauhan tempatku mengais rupiah telah tampak bangunan kecil dari kayu bercat hijau pudar. Di depannya bangku bambu tempat nongkrong anak-anak sekolah SD, SMP, dan SMA. Sakit rasanya mengenangkan kegagalanku meraih impian, andai aku boleh memilih, aku tak rela hanya menjadi penonton atas keasyikan diskusi mereka tentang keberhasilan mereka dalam ulangan harian, ulangan semester, ujian nasional, lomba mapel, olah raga, dan yang paling membuatku iri adalah perpustakaan. “rasanya aku ingin sekali ikut bicara, bercanda dan bertukar fikiran bersama mereka”.
Suatu keuntungan bagi kami,letak warung yang strategis, tepat di tepi jalan utama empat sekolah sekaligus,SD N 1 Bandongan,SMP N 1 Bandongan,SMK Muhammadiyah Bandongan dan SMP  Bandongan.di depan warung kami di buka taman bacaan charisma dan di samping kiri kami ada warnet. Jadi warung kami selalu ramai. Dan tak jarang pula beberapa orang guru sering mampir ke warung kami untuk makan siang. Kami memang hanya menyediakan bakso,soto,es buah,es teh dan es jus. Namun kami selalu berusaha mrmpertahankan mutu yang menjadi kekhasan rasa dan  penggemar kami.
Salah satu guru SMP N 1 Bandongan yang selalu setia mampir ke warung kami adalah Pak Toha. Seperti siang ini,Pak Toha tengah asyik menikmati soto ayam kampong yang baru saja kusediakan, sementara aku tengah mencuci piring.
“Nduk,berapa usiamu sekarang ?”
“Dua puluh pak”jawabku santai.
“Berapa tahun kamu bekerja di sini ?”
“Hm……kira – kira satu setengah tahun”
“Kalau seandainya ada lowongan kerja di Malaysia gimana ?”
“Wah,tentu saja saya mau sekali. Tapi saya tak pernah pergi jauh,takutnya bapak ga’ boleh”
“Nanti biar bapak yang “matur” sama bapak kamu,gimana ?”
“Beneran nih pak? Saya ga’ mimpi kan ?” tanyaku girang tak dapat kusembunyikan kebahagiaanku. Sepeninggal Pak Toha aku menangis saking bahagianya. Hingga teman sepekerjaanku yang baru saja belanja keheranan melihatku menangis hingga tak mampu berkata lagi. Luar negeri, Malaysia, Naik bus besar,Naik pesawat,Pergi ke Bandara,Bertemu turis.Oh Tuhan, benarkah ini? Ataukah Engkau hanya menggodaku ?”
  Aku tak pernah pergi jauh dari desa kecilku,kecuali saat study tour ke jepara,kota kelahiranku pelopor emansipasi wanita. Sang Pemerjuang hak dan keseteraan derajat R.A. Kartini. Yang terkenal dengan bukunya”Habis Gelap Terbitlah Terang”yang berisi surat – suratnya kepada teman – temannya di Belanda.
Pergi ke kota, perjalanan jauh penuh kenangan yang tak akan pernah kulupakan. Dan sekarang Malaysia. Betapa jauh dan melelahkannya.
  Robby…..inikah jalanku…..
  Ataukah Engkau hanya menggodaku
  Sang pecinta dunia. Aku percaya ini takdir-Mu
  Dan engkau ibarat sutradara
  Sementara aku hanyalah pelaku scenario
  Robby …..tunjukkan jalan terbaik untukku
  Mengapa…..dunia semakin kukejar makin menjauh
  Makin sulit,hingga harus ke negeri orang.
Wajahku berseri,saat aku pulang dank u lihat Pak Toha tengah berbincang dengan Bapak di ruang depan. Begitu melihatku, bapak segera menyuruhku bergabung bersama mereka. Kulihat wajah Bapak sedikit pucat.”Ada apa Pak?”aku mulai khawatir dan hanya bertanya dalam hati. “Maaf. Nduk,Bapak tahu kamu sangat menginginkannya dan Bapak pun demikian. Tapi bapak tak tega. T adi kami telah meminta Pak Lek dan Pak De - Pak De mu. Mereka keberatan. Mereka tak sanggup melepasmu mengembara sendiri di negeri orang. Terlebih kamu perempuan.”
  “Tapi Pak !”ujarku memohon sambil kupeluk lengan Bapak yang hanya tulang.
  “Maaf Nduk, bapak telah berusaha . tapi kita punya keluarga yang dengan mereka kita harus bermusyawarah dalam memutuskan suatu masalah. Mungkin ini bukan rezeki kita. Mungkin Allah hanya menguji kita. Sabar ya Nduk !”kata Bapak sambil membelai kepalaku.
Aku kecewa,sangat kecewa. Namun,aku tak mampu mengungkapkan. Hatiku terlalu sakit, hingga meneteskan air matapun aku tak sanggup. Masih terbayang bagaimana aku pulang dari pesantren dengan seluruh hidupku,dua kardus kitab – kitab dan buku sekolahku, satu tas besar pakaian sehari – hari san seragam pesantren dan sekolah. Saat itu pun aku tak mampu menangis dan berkata – kata. Saat teman – teman mengantarkan hijrahku. Mereka menangis,tapi hatiku terlalu sakit untuk sekedar meneteskan air mata.
“Maaf Nduk,hanya itu yang Bapak ucapkan.
Terbayang wajah – wajah adikku,senyum mereka,tawa mereka.
“Kakak,Titi pengin menghafal Al-Q   ur’an”
“Kakak,Dewi pengin jadi dokter”
“Kakak,Lulu pengin penulis terkenal”
“kakak pengin jadi apa ? “Tanya titi, yang paling kecil, tiba – tiba hatiku merintik hujan mendengar, polosnya.
“kakak pengin jadi saudagar kaya – raya seperti istri rosululloh, sayidah khotijah .R.A. Do’akan ya! Nanti kalau uang saku adik,bisa minta sama kakak .” kataku sambil memaksakan senyum terindahku.
            Menunggu…….. Oh ,rasanya………….
            Waktu hanya berjalan ditempat saja
            Tak beranjak……… tak merambat
            Dan aku ……….
            Hampir binasa dicekik asa
Harap yang terus bergelora
Membakarku hidup-hidup
Melemahkan seluruh sendiku
Membuatku seakan hampir meledak
Dii dera putus asa
Dainun……..tanggungan………
Robby………tolong aku
Apa yang harus kulakukan …….
Aku seperti hamper gila.

Kembali kurangkai asa. Hari-hari seolah hanya dipenuhi kesia-siaan . Mengejar dunia,dunia …..dunia……hanya dunia. Tidak ini jihat  “Wahai dunia barang siapa mengejarmu, maka tinggal kan lah dia dan barang siapa mengejar – KU, maka layanilah dia”
Samar, masih ku ingat sebuah kata mutiara yang pernah ku baca saat masih di pesantren, saat aku masih dalam buaian impian terindah ku.”Tholabul ‘Ilmi” Kata mutiara yang dulu ku baca sambil lalu itu kini menancap tepat di ulu hati ku.
            “Tabungan yang tak jua bertambah
            “ Kebutuhan yang makin meningkat
            Dan tanggungan justru kian menumpuk
“Oh,dunia meninggalkanku karena aku mengejarnya.Dunia lari ketakutan melihatku. Robby……aku hanya ingin memperjuangkan kematian kami. Kami tidak ingin saat jatah rizki dan nafas kami habis, kami masih terjerat tanggungan. Dan tak ada yang bersedia menshalatkan kami. Jika rosululloh tak bersedia menshalatkan orang yang masih punya tanggungan, apalagi umatnya. Kecuali jika ada yang telah bersedia menanggungnya. Dan kami tak yakin saat kami tak lagi bernafas ada orang yang bersedia menanggung tanggungan kami. Mengingat siapa kami dan banyaknya tanggungan kami. Dan jika ada tentu ia orang yang berhati mulia. Namun, selama hayat masih di kandung badan kamki akan terus berjuang berikhtiar. Dan engkaulah yang berhak menentukan akhir dari perjuangan kami.
Siang begitu terik,keramaian dan kegaduhan anak-anak SD N Bandongan baru saja usai saat bel tanda masuk setelah istirahat 2 berbunyi. Warung mulai sepi tinggal kebisingan lalu-lalang kendaraan yang masih tiada jemu menyumbah polusi suara dan polusi udara.
Aku duduk menselonjorkan kaki,melepas lelah dan penat sambil menuggu Fizki menyapa. Hari ini aku menjaga warung seorang diri wati tidak masuk karena sakit,sementara sang pemilik warung pergi belanjabersama suaminya. Aku masih asyik dengan lamunanku saat tiba-tiba saja Bapak muncul di depan pintu dengan rau kelelahan. Namun,matanya tampak berbinar-binar. Sepertinya Bapak membawa kabar gembira untukku.
            “Assalamu’alaikum”
            “Wa’aliakumsalam warohmatulloh wabarokatuh”
            Aku segera bangkit,kucium tangan kurus Bapak dengan ta’zim.
Kulihat Bapak membawa selembar kertas. Bapak menyerahkannya padaku.
“Nduk,Alloh itu Maha Tahu,Maha Pemurah. Alloh tak akan membiarkan hambanya yang ikhlas menderita. Alloh akan menunjukan jalan terbaik untuk kita. Bukalah,tadi Bapak bertemu Pak Tono,beliau berniat mencari pegawai baru dan beliau menawarkannya pada Bapak.
 Bapak sudah musyawaroh dengan keluarga. Dan mereka tidak keberatan. Kamu hanya diharuskan membuat lamaran pekerjaan dan akan langsung diterima. Kamu harus berebut peluang dengan pelamar lain. Allah memudahkan kita karena niat kita lurus,hati kita tulus dan ikhlas berjuang di jalan Alloh.” Aku tak mampu berkata-kata,aku terlalu bahagia. Kupeluk lengan Bapak erat. Aku begitu terharu hingga berlinang air mata.
            “Robby…..inikah jalan terbaik yang engkau pilihkan untukku?
            Betapa indah kencana-MU Robby……betapa luas karunia-MU
            Betapa manisnya rahasia-MU…..
            Robby…terima kasih atas keindahan-keindahan misteri-MU